Flipped Classroom dan Problem-Based Learning dalam Best Practice PembaTIK 2021



Dalam kegiatan PembaTIK 2021 ini saya dan teman-teman dibagi menjadi 4 kelompok untuk menentukan sub-tema dalam menjalankan best practice. Saya tergabung dalam kelompok 3 dengan sub-tema: Implementasi Model Pembelajaran Inovatif dengan Memanfaatkan Fitur-Fitur Rumah Belajar dalam Pembelajaran di Masa Pandemi. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menggunakan perpaduan Flipped Classrom dan Problem-Based Learning.

MENGAPA PROBLEM-BASED LEARNING?

Seorang guru adalah sutradara dalam pembelajaran bersama peserta didik. Awalnya semua bergantung pada guru, namun prosesnya berfokus pada peserta didik. Hal ini menjadi tantangan permanen bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang inovatif. Mengapa guru perlu melaksanakan pembelajaran inovatif?

Hal utama yang harus diperhatikan sebelum memulai pembelajaran adalah menelisik kebutuhan dan karakteristik peserta didik masa kini. Seperti yang kita tahu bahwa kini dunia tengah menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi yang terus berkembang; Hingga ke depannya pasti ada lebih banyak hal yang memanfaatkan kemajuan digitalisasi.

Lalu apakah keberadaaan atas perkembangan teknologi ini akan menggeser keberadaan manusia? Saat ini, sudah ada robot pelayan yang dikembangkan. Atau hal yang berkaitan dengan keseharian kita yaitu mesin ATM. Sekarang ketika ingin setor tunai kita tidak perlu ke bank karena sudah ada mesin ATM setor tunai. Bagaimana dengan masa depan? Manusia akan terus mengembangkan hal praktis. Maka, sebagian besar pekerjaan yang berhubungan jasa sudah memiliki solusi atas kepraktisan tersebut. Jika demikian, kemampuan apa yang harus dimiliki peserta didik agar mereka mampu bertahan di masa depan?

 
cnnindonesia.com

 
oyindonesia.com

Dalam laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada artikel Pendidikan "Karakter Dorong Tumbuhnya Kompetensi Siswa Abad 21", dinyatakan bahwa:

Penguatan pendidikan karakter di sekolah harus dapat menumbuhkan karakter siswa untuk dapat  berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, dan berkolaborasi, yang mampu bersaing di abad 21. Hal itu sesuai dengan empat kompetensi yang harus dimiliki siswa di abad 21 yang disebut 4C, yaitu Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to Work Collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama).

Jadi kemampuan yang harus dimiliki peserta didik sekarang adalah 4C tersebut. Pembelajaran di kelas harus mampu memfasilitasi peserta didik agar 4C itu dapat tecapai.

Di samping itu, kita perlu memperhatikan bahwa peserta didik SD, SMP, dan SMA saat ini merupakan mereka yang lahir di tahun 1996-2012--yang artinya mereka masuk dalam kategori Generasi Z. Menurut David Stillman dan Jonah Stillman mengenai Karakteristik Gen Z, Gen Z memiliki 7 karakteristik yaitu:

  • Figital (gabungan antara fisik dan digital, tidak ada bedanya antara fisik dan digital)
  • Hiperkustomisasi (memiliki identitas unik, menyesuaikan diri sesuai dengan kebutuhan dan seleranya)
  • Realistis (sesuatu harus konkrit dan jelas)
  • Weconomist (berada pada fenomena  sharing economy yang mendorong untuk memberi dan berbagi (kolaborasi))
  • Fear of missing out (ingin selalu terkoneksi dengan informasi agar relevan jika berada dalam sebuah kelompok)
  • Do it yourself (belajar bisa dari mana saja)
  • Kompetitif (memiliki daya saing yang kuat, ingin menjadi lebih baik dari lainnya)

Maka dengan memahami karakteristik peserta didik, guru dapat menentukan strategi yang tepat agar  kebutuhan mereka di masa depan dapat dicapai melalui proses pembelajaran di kelas. Selain itu juga guru harus mampu memposisikan diri di era digital ini. Guru masa kini merupakan mereka yang lahir pada tahun 1961-1980 (Generasi X) dan 1981-1995 (Generasi Milenial). Itu berarti terdapat perbedaan gap yang bisa mempengaruhi pembelajaran di kelas. Oleh karena itulah guru harus mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi agar kebutuhan peserta didik di Abad 21 ini dapat didapatkan.

Atas dasar kebutuhan peserta didik di Abad 21 ini, dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, salah satu isinya merupakan rekomendasi model pembelajaran yang bisa memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran). Model pembelajaran itu adalah Discovery/Inquiry Learning (pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian), Problem-Based Learning - PBL (pembelajaran berbasis masalah), Project-Based Learning - PjBL (pembelajaran menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah). Namun, tidak menutup kemungkinan atas model pembelajaran yang lain asalkan tetap berorientasi pada peserta didik--yang bisa menjawab kebutuhan peserta didik Abad 21.

Untuk menjawab pembelajaran apa yang tepat dengan memperhatikan kebutuhan dan karakteristik peserta didik masa kini maka best practice yang saya lakukan menggunakan Problem-Based Learning.

FLIPPED CLASSROOM

Tidak hanya berbicara tentang peserta didik masa kini, hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan kita saat ini. Kita masih berada pada masa Pandemi Covid-19 dimana kegiatan pembelajaran di kelas sangat terpengaruh. Beberapa bulan terakhir, sekolah sudah mulai dibuka dengan memberlakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. Perubahan yang terasa adalah waktu pembelajaran di kelas yang dalam 1 jam pelajaran hanya 15-30 menit. Hal itu terasa singkat sehingga kegiatan di sekolah pun terbatas. Maka, ada solusi lain yang ditawarkan agar pembelajaran tidak seperti diburu waktu, salah satunya adalah dengan menerapkan flipped classroom.

Flipped classroom merupakan bentuk pembelajaran blended learning yang menggabungkan sinkron (real time) dan asinkron (online). Pembelajaran ini biasa dikenal dengan kelas terbalik. Maksudnya terbalik adalah kebalikan atas kegiatan belajar yang biasanya memberikan materi di sekolah lalu peserta didik ditugaskan atau diberi proyek untuk menyelesaikannya di rumah. Jadi dalam flipped classroom, peserta didik diberikan materi di rumah dan menerapkan atau mempraktekannya di sekolah.

[caption id="attachment_201" align="aligncenter" width="710"] https://s3-us-west-2.amazonaws.com/uw-s3-cdn/wpcontent/uploads/sites/21/2019/12/13014244/Flipped-classroom-750x222.png[/caption]

Baca juga: Memanfaatkan Fitur Sumber Belajar pada Portal Rumah Belajar dalam Best Practice PembaTIK 2021

Flipped classroom memiliki 3 tahap pembelajaran yaitu before class, in class, dan after class. Pada tahap sebelum kelas, guru memberikan rujukan materi pembelajaran dan peserta didik dipersilakan untuk mengeksplor materi tersebut. Bisa melalui tatap maya atau pemberian materi online. Hal itu menjadi bekal saat mereka belajar di kelas dimana peserta didik akan diberikan suatu permasalahan dan atau penguatan terhadap suatu konsep. Setelah kelas, peserta didik diberikan evaluasi atau refleksi pembelajaran.

Manfaat dari dilaksanakannya flipped classroom adalah pembelajaran yang dilakukan mencerminkan student-centered dimana ini jawaban atas tuntutan pembelajaran Abad 21. Dalam kegiatan di kelas pun dapat meningkatkan interaksi belajar dimana peran guru adalah menuntun peserta didik dalam memahami konsep dan menggabungkannya dengan sebuah permasalahan; Selanjutnya juga dapat memberi peserta didik ruang untuk berbagi dan berkolaborasi bersama teman. Di samping itu peserta didik memiliki kepercayaan diri dalam belajar dan mereka dapat menentukan merdeka belajarnya sendiri. Artinya, keterlibatan mereka dalam pembelajaran menjadi lebih tinggi; Mereka menjadi sutradara atas diri sendiri dalam belajar. Sementara itu yang menantang dalam flipped classroom ini adalah ketika motivasi belajar peserta didik di rumah rendah dan kurang terpantau, peserta didik dan guru harus memiliki time management yang baik selama pembelajaran di rumah dan di kelas, dan guru harus beradaptasi dengan era digital sehingga memudahkan pembelajaran asinkron.

 

Perpaduan Flipped Classroom dan Problem-Based Learning

Mengapa memadukannya? Tak lain dan tak bukan adalah agar pembelajaran semakin bermakna bagi peserta didik dan menjadi bahan refleksi bagi guru untuk menentukan pembelajaran yang tepat untuk menjawab kebutuhan dan karakteristik peserta didik masa kini dan tantangan pembelajaran di masa pandemi.

 

Referensi:

Bergmann, J & Sams A (2012) Flip your classroom: talk to every student in every class every day. International Society for Technology in Education.

Network, F. L. (2014). What is flipped learning? The four pillars of FLIP. Flipped Learning Network, 501 (c), 2.

usd.ac.id. (2020, 4 Mei). Konsep Dasar Metode Flipped Classroom. Diakses pada 4 November 2020, dari https://penerbitdeepublish.com/teknik-menulis-a-2/

Komentar